Nama tokoh dan karakter
1. Yoga (seorang pengangguran, agak sedikit egois, tapi baik dan sopan)
2. Icha (Anak orang kaya, baik, sopan, cantik, dan murah hati, serta murah senyum)
3. Bagas (sahabat karib Yoga, seorang pengangguran, tetapi rajin, sopan, dan baik hati)
4. Renda (sahabat karib Yoga, pengangguran, tapi baik dan sopan)
SINOPSIS:
Bagas, Renda, dan Yoga adalah tiga sahabat yang mempunyai pekerjaan yang sudah tidak langka di jaman sekarang ini, yaitu pengangguran. Mereka berusaha mencari pekerjaan, tetapi hasilnya Nihil. Kerena mereka adalah seorang pengangguran, maka mereka dinilai rendah di mata masyarakat. Tetapi kisah mereka tidak habis sampai disini. Mereka masih memiliki niat yang baik dan bersungguh-sungguh. Mereka tetap mencari pekerjaan tanpa mengenal lelah, walaupun hasilnya tetap Nihil.
Akhirnya munculah niat buruk Yoga untuk mencuri. Tetapi niat itu ditolak oleh Bagas dan Renda. Karena Bagas dan Renda menolak keinginan Yoga, maka Yoga marah dan pergi. Dilain pihak, Bagas dan Renda tetap mencari pekerjaan dengan jalan yang benar dan Halal. Akhirnya mereka mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci mobil. Walaupun bayaranya tidak seberapa, mereka tetap menekuni pekerjaan itu. Mereka bekerja dengan bagus dan memuaskan bossnya, akhirnya mereka mendapatkan kenaikan gaji karena prestasi mereka.
Sampai akhirnya mereka melihat seorang pelanggan yang sangat cantik. Bagas telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada pelanggan itu. Akhirnya Bagas mendekati pelanggan itu dan menanyakan namanya. Ternyata namanya adalah Icha, dia adalah pemilik toko pets besar di Salatiga. Cabangnya sudah ada di Semarang, Bandung, Indramayu, Blitar, Bromo, Cirebon, dan kota-kota besar lainya di Indonesia.
Dilain pihak, Yoga yang telah memutuskan untuk berpisah dengan Bagas dan Renda sekarang benar-benar menjadi pencuri. Dia sudah menjadi incaran 4 desa di daerahnya. Sebenarnya Bagas dan Renda sudah melarang Yoga untuk berhenti menjadi pencuri, tetapi karena sifat sudah melarang Yoga untuk berhenti menjadi pencuri, tetapi karena sifat Yoga yang egois, maka usaha Bagas dan Renda sia-sia.
Akhirnya Yoga berhasil ditangkap warga di tempat persembunyianya. Walaupun Bagas dan Renda sudah melarang masa untuk tidak membawa Yoga ke polisi, masa itu tetap membawa Yoga ke polisi. Akhirnya Bagas dan Renda berusaha menolong Yoga dari penjara. Tetapi mereka kalah dengan pasal-pasal yang sudah mengikat Yoga. Mereka tidak sanggup untuk menebus uang yang nilainya sangat besar untuk pekerja cuci mobil seperti mereka. Akhirnya mereka mempunyai siasat untuk mengeluarkan Yoga dengan paksa.
Pada suatu malam, Bagas dan Renda menyelinap ke kantor polisi untuk membebaskan Yoga. mereka membawa seperangkat maling yang biasanya digunakan Yoga untuk mencuri. Mereka berusaha untuk tida berisik supaya tidak membangunkan penjaga yang ada di meja jaganya yang sedang tertidur lelap.
Setelah melakukan usaha yang sangat lama, akhirnya mereka bisa membebaskan Yoga. Karena teman satu sel Yoga sudah melihat kejadian pelarian diri Yoga oleh kedua sahabatnya, mereka juga ikut membebaskan teman satu sel Yoga. Walaupun sebagai tahanan, teman satu sel Yoga itu tergolong orang yang baik. dia bernama Wahyu. Dia dan adiknya memiliki toko pets terbesar di Salatiga. Dia dipenjara karena kasus pemfitnah-an. Akhirnya mereka berpisah dengan Wahyu. Wahyu pun pulang ke rumahnya, Bagas, Renda, Dan Yoga pun pulang kerumahnya pula.
Setelah sesampainya dirumah, mereka beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Walupun begitu, mereka harus tetap waspada karena kapan saja dan dimana saja polisi bisa menangkap Yoga serta Bagas dan Renda. Kerena sekarang Yoga tidak boleh mencuri lagi pleh Bagas dan Renda, maka mereka mencarikan pekerjaan lain kepada Yoga. Mereka mencoba melamarkan pekerjaan sebagai pencuci mobil di tempat mereka bekerja.
Keesokan harinya mereka menuju tempat kerja Bagas dan Renda untuk melamarkan Yoga untuk dapat bekerja di tempat mereka bekerja. Akhirnya mereka menemui boss mereka dan ingin menambahkan teman mereka supaya dapat bekerja disini. Awalnya boss mereka tidak setuju, tetapi Karena bujukan dan rayuan mereka, Yoga mendapat pekerjaan. Tetapi jika ada salah sedikit saja saat Yoga bekerja, maka Yoga akna langsung di pecat.
Besoknya, Yoga sudah mulai bekerja seperti Bagas dan Renda. Pekerjaan Yoga juga lumayan bagus. Saat mereka sedang sibuk bekerja, datanglah wanita yang disukai Bagas pada pandangan pertama. Yaitu Icha sang pemilik toko pets besar di Salatiga. Bagas sangat senang dengan kedatangan Icha. Bagas langsung menemui Icha. Mereka langsung mengobrol panjang lebar. Yoga yang sejak dari tadi bekerja, terganggu dengan kelakuan Bagas. Tetapi karena melihat kecantikan Icha, Yoga juga jatuh cinta pada pandangan pertama juga seperti Bagas. Ini terlibat kisah cinta segitiga.
Seminggu kemudian, karena Bagas tidak masuk karena sakit, maka yang bekerja sekarang hanya Renda dan Yoga. Saat mereka beristirahat karene belum ada pelanggan, mereka melihat wanita cantik bernama Icha itu datang lagi untuk mencucikan mobilnya. Dia bertanya kepada Yoga kenapa Bagas tidak masuk. Yoga menjawab dengan sedikit marah karena mengapa yang ditanyakan hanya Bagas.
Akhirnya Icha bertanya kepada Yoga siapa namanya. Lalu Yoga menjawab dengan perasaan agak sedikit senang. Mereka mengobrol sambil melihat Renda sedang mencucikan mobil Icha dengan hati-hati. Mereka mengobrol dengan asyik sekali. Lalu Yoga bertanya kepada Icha apa pekerjaanya, Icha menjawab kalau dia bekerja sebagai pemilik toko pets di Salatiga. Akhirnya perbincangan mereka pun selesai setelah Renda telang selesai mengerjakan mobil Icha. Akhirnya pun Icha pulang dan member salam kepada Yoga dan Renda.
Pada suatu hari, timbulah lagi niat buruk Yoga untuk mencuri. Tetapi Yoga tidak akan memberitahukan hal ini kepada Bagas dan Renda. Karena jika dia memberitahukanya kepada kedua sahabatnya itu, dia akan dipukuli sampai habis oleh mereka. Penyakit mencuri Yoga timbul karena melihat kucing yang sangat bagus, rambutnya lembut dan keabu-abuan. Yoga berpikir kalau kucing ini dijual, maka harganya bisa sampai puluhan juta. Akhirnya Yoga segera mencari kesempatan untuk mencuri kucing itu. Setelah melalui berbagai cara dan taktik, dia berhasil mencuri kucing itu.
Setelah mencuri kucing itu, Yoga langsung menjual kepada pecinta kucing. Akhirnya Yoga menjual kucing itu seharga 5jt dari pecinta kucing itu. Kata pecinta kucing itu, dia akan menjualnya kepada pecinta kucing di Jakarta. Dia akan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dari ini. Pasti dia akan tertarik dengan kucing ini dan membelinya dengan harga yang lebih tinggi. Setelah kucing itu berhasil dijual, Yoga lansung pulang ke rumah.
Keesokan harinya, Icha datang ke pencucian mobil tempat Yoga, Bagas, dan Renda bekerja. Tidak seperti biasanya, Icha tidak akan mencucikan mobilnya itu. Tetapi malah menangis di hadapan Yoga. Bagas dan Renda pun kaget melihat hal itu. Akhirnya mereka mendekati Icha. Yoga pun menanyai Icha mengapa dia menangis. Icha menjawab dengan sedih karena kucing kesayanganya hilang. Setelah itu, Yoga menanyakan ciri-ciri kucing itu. Ternyata ciri-cirinya sama dengan kucing yang kemaron malam dia curi dan dijual kepada pecinta kucing. Akhirnya Yoga mengatakan yang sebenarnya kepada Icha. Icha sangat sedih dengan pengakuan Yoga. Bagas dan Renda pun turut jengkel dengan sikap Yoga. Yoga hampir saja akan dipukuli oleh Bagas, tetapi karena dicegah oleh Renda dan Icha, maka Bagas menghentikan hal itu.
Akhirnya Yoga menceritakan semua yang telah dilakukanya. Akhirnya Yoga berniat untuk mengambil kembali kucing itu. Dia akan pergi ke Jakarta untuk mengambil kucing itu. Niat baik itu disambut dengan baik oleh Icha, begitupun dengan Bagas dan Renda. Akhirnya mereka berangkat dengan menggunakan mobil VW Golf GTI kesayangan Icha. Akhirnya mereka berangkat ke Jakarta.
Dalam perjalanan, mereka dihalangi berbagai hambatan. Mobil Icha hilang saat mereka beristirahat makan di Jogja. Semua uang yang mereka bawa dicopet saat mereka naik bus. Icha diculik oleh sopir truk yang biadab saat mereka akan ke Cirebon. Dan hambatan-hambatan lainnya. Setelah sampai di Jakarta, Yoga sakit karena kelelahan dan kelaparan.akhirnya mereka dapat menemukan pemilik kucing kesayang Icha yang baru. Tetapi Renda, Bagas, dan yang paling utamanya adalah Yoga kaget bukan kepalang. Ternyata orang yang selama ini dia cari, orang yang telah mengasuhnya dari kecil, tetapi hilang saat Yoga berusia 10 tahun, sekarang ada di depan mata Yoga. Ayah Yoga pun kaget melihat Yoga. Akhirnya ayah Yoga menanyai mereka tentang apa yang membuat mereka sampai disini. Akhirnya Yoga mengatakan yang sebenarnya. Ayah Yoga pun menyadari kesalahanya. Ayah Yoga akn memberikan kucing itu kembali jika dalam waktu 1 minggu ini, dia harus sudah mempunyai pendamping hidupnya untuk membuat kontrak seumur hidup dengan kekasihnya. Demi Icha, Yoga bersediamelakukan apa saja.
Tetapi Yoga kesulitan untuk mencari cinta sejati dalam waktu 1 minggu. Sebenarnya Icha sudah menyimpan rasa dengan Yoga sejak pertama kali bertemu di pencucian, tatapi Yoga sendiri yang tidak sadar. 1 minggu telah berlalu, tetapi Yoga belum menemukan cinta sejatinya. Tetapi akhirnya Icha mendekati Yoga dan berkata bahwa dia mau menjadi pendamping hidup Yoga. Dia tidak mengatakan ini karena untuk mendapatkan kucingnya kembali, tetapi memang ada perasaan cinta yang sangat dalam darinya kepada Yoga. Awalnya Yoga sangat tidak percaya dan sangat bingung. Akhirnya Yoga mengingatkan kepada Icha kalau dia adalah seorang pencuri. Tetapi Icha memegang tangan Yoga dan berkata bahwa Yoga adalah Pencuri Cintanya Icha.
PENCARIAN JATI DIRI
Pengangguran sudah tidak langka lagi di negeri kita ini. Pengangguran disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah kurangnya lapangan pekerjaan, kemampuan SDM yang belum memadai, kuarangnya tenaga ahli, dll. Tetapi ada cara untuk mengurangi pengangguran, yaitu membuat wirausaha sendiri, member bantuan pendidikan untuk TKI dan TKW, dll.
Pengangguran memang sedang marak di Indonesia ini. Seperti halnya tiga sahabat ini. Yoga, Bagas, dan Renda adalah pengangguran di desanya. Bukan karena mereka malas mencari pekerjaan, tetapi mereka tidak memiliki keterampilan yang dicari oleh perusahaan. Sehari-harinya mereka hanya nongkrong di warung atau di pos kamling. Ya seperti itulah kehidupan mereka saat ini.
Pada suatu hari, mereka bertiga bersepakat untuk melamar pekerjaan sebagai pegawai pabrik garmen. Tetapi lamaran mereka ditolak karena ijazah yang mereka punya hanya sampai SMP. “kalau gini caranya, kita akan menjadi pengangguran seumur hidup nich” kata Bagas kepada kedua sahabatnya. “mengapa perusahaan hanya membutuhkan keterampilan dan skill dari pegawai, padahal pembentukan sikap sangat penting dalam pekerjaan”. Kata Renda dengan nada marah. “memang Tuhan itu tidak adil”. Kata Yoga dengan marah. “lho, kok bawa-bawa nama Gusti ALLAH?.” Kata Bagas memarahi Yoga. “tapi benar juga kata Yoga, mengapa kita tudak pernah diterima pekerjaan? Padahal niat kita itu baik, yaitu untuk membantu negeri ini dari persaingan pasar bebas. Ya kita membantu dengan tenaga dan kemampuan kita tentunya.” Kata Renda mendukung Yoga.
“kalian itu sudah lupa dengan ajaran orang tua, kakek-nenek kita ya. ALLAH itu ada, iman kalian aja yang dikit, jadi mudah lupa bahwa ALLAH itu ada. Kalian itu tidak berasa ya kalau ALLAH itu ada?” kata Bagas menasehati. “berasa piye tho Gas, lha wong kita tu orang susah, tapi kok malah ditambahin susah terus.” Kata Renda masih ngeyel. “yo, betul kuwi katane Renda” kata Yoga mendukung. “memangnya siapa yang membuat bumi ini, siapa yang membuat tata surya ini, siapa yang menyangga jagad raya ini, tidak seorang pun bisa melakukannya kecuali ALLAH Yang Maha Besar. Kaliyanya aja yang tidak sadar dengan Rahmat dan Hidayah yang sudah Beliau berikan kepada kita sebagai umat manusia.” Kata Bagas menasehati.
“Pokoknya nak kowe udah ceramah gitu, males aku kadang-kadang kalau pas marah gini “ kata Renda dengan suara agak lemas. “yo Ren, emang Bagas nak udah gitu wiz kaya ustad Imran. Liat ae jenggotnya, persis tho?” kata Yoga mengejek Bagas. “penting do seneng ki aku melu seneng. Daripada adanya Cuma nesu-nesu, raine ditekuk-tekuk malah gak seneng aku. Nak ngene malah seneng aku.” Kata Bagas. “yo raimu” kata Renda dan Yoga serempak.
Sambil jalan kaki untuk pulang ke rumah, mereka melihat tukang bakso yang ada di pinggir jalan. Akhirnya mereka berniat untuk membeli bakso. “wah, ada bakso. Beli yo” kata Renda mengajak. “ayo, aku ngeleh banget iki. Awit tadi pagi aku durung makan.” Kata Yoga mendukung. “langsung ae diserbu” kata Bagas sambil berlari ke arah tukang bakso itu.
“pak, beli bakso nya 3 pak” kata Bagas memesan bakso nya. “jangan lama-lama ya pak” kata Renda tidak sabar. “yo pak, wis ngeleh banget nih” kata Yoga meminta agar lebih cepat. “yo” kata tukang bakso. “siiippppp” kata Bagas dengan mengangkat jempol tanganya. “iki, wis mateng kabeh” kata tukang bakso itu sambil membawa 3 mangkok bakso yang masih panas. “matur thank you yow pak” kata Yoga sambil tersenyum.
Mereka langsung menyantap bakso mereka. “gimana kalau kita jualan bakso aja piye?” kata Renda memberi masukan. “ah ndasmu, modalnya dari mana, Renda itu gak berpikir yo?” kata Yoga sambil memukul kepala Renda. “yo Ren, kita tu harus buat gerobaknya dulu, terus modale seko ngendi?” kata Bagas menegaskan. “yo aku kan memberi solusi” kata Renda dengan malu. “dadi pemulung ae sing gak usah pake modal, paling modal cuthik sama karung thok aja udah.” Kata Yoga memarahi Renda. “yo sory Cuk” kata Renda meminta maaf.
Setelah mereka menghabiskan bakso nya, mereka langsung membayar dan pulang ke rumah. Saat perjalanan pulang ke rumah mereka mendengar suara masa yang sepertinya sedang mengejar orang. “suara opo kae?” kata Yoga penasaran. “mbuh, tapi koyo gek ngejar maling iwx” kata Bagas sangat penasaran. “mesti nak gax maling yow copet, po jambret pok sak jenise mesti” kata Renda sambil bercanda. “taek…” kata Yoga sambil memukul kepala Renda. “ancuk iwk” kata Renda sedikit marah.
Setelah itu, dari belakang ada seorang pria sedang berlari kea rah Yoga, Bagas, dan Renda. Dia membawa tas yang lumayan cantik. “tolong mas bawain tas aku dulu, aku mau kencing sebentar, tolong banget, dach kebelet banget nih.” Kata pria itu sedikit memaksa. “sana cepet, cepet, cepet, bikin ribet ae” kata Yoga menolong pria itu membawakan tas nya. “makasih mas, makasih banget” kata pria itu sambil memberikan tas itu. Setelah itu, pria itu lari entah kemana. “jangan-jangan ini tas copetan Ga?” kata Bagas penasaran. “he’e Ga, kalo ada apa-apa, aku gak mau ikut campur”. Kata Renda menjelaskan. “terus kalo bener ini tas copetan gimana?” kata Yoga agak sedikit takut. “ya aku gak ikut-ikutan. Kata Bagas dengan ekspresi tak peduli.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara masa yang teriak-teriak dari tadi. Akhirnya masa itu menghampiri Yoga, Bagas, dan Renda sambil berteriak “itu Copetnya”. “sial, bener tho” kata Renda khawatir. Sekerumunan masa itu mendekati Yoga dan langsung menghajar Yoga, padahal dia tidak tahu apa-apa. “ayo hajar, ayo hajar, ayo hajar…” kata sekerumunan masa itu sambil menghajar Yoga tanpa ampun karena baju pencopet itu sama dengan baju Yoga. “ampun pak, ampun pak, aku gak tau opo-opo” kata Yoga sambil menahan sakit. “ampun pak, dia gak salah, ini temen kita, pencopetnya tadi menititipkan tas ini ke temen kita, katanya dia mau buang air kecil sebentar, kami tidak tau kalau dia pencopet.” Kata Bagas melerai masa itu. “bener pak, temen kami tidak tau apa-apa” kata Renda mendukung Bagas. Akhirnya mereka menghentikan memukul Yoga.
Akhirnya seorang dari mereka berbicara kepada Bagas. “Apa bener ini temen kalian dan ada orang lain yang menitipkan tas ini” kata salah seorang dari mereka. “bener om, eh pak, tadi ada seorang laki-laki menitipkan tas ini ke teman kami, awalnya kami curiga, tapi teman kami ini mau menerima tas ini, dia memang egois dan ceroboh pak, maafkan dia pak” kata Bagas menolong Yoga. “ampun pak, saya gak tau apa-apa” kata Yoga menahan kesakitan. “maafkan kami ya nak, kami gak tau kalau bukan dia pelakunya.” Kata dari salah seorang masa itu. “iya pak, teman kami ini memang ceroboh pak, maafkan kami ya pak.” Kata Renda menjelaskan. “maafkan kami ya nak” kata seorang masa yang lain. “lain kali hati-hati dong kalo mukul orang, aku bisa tuntut kalian semua” kata Yoga sedikit marah.
Melihat Yoga yang sedang marah besar, Bagas dan Renda berusaha menenangkan Yoga. “gak kok, gak kok, mereka kan gak sengaja, lagian ini kan salahmu juga, kamu ini ceroboh sekali.” Kata Renda menenangkan Yoga. “iya bapak-bapak, kami maafkan, dan kami juga minta maaf ya atas kecerobohan taman kami ini.” Kata Bagas menenangkan hati masa itu. Akhirnya sekerumunan masa itu sedikit demi sedikit meninggalkan Yoga, Bagas, dan Renda. Tak lama kemudian, seorang tante yang cantik datang dan akan mengambil tas itu. Salah seorang dari masa itu mejelaskan yang sebenarnya terjadi, dan tante itu meminta maaf kepada Yoga karena telah dipukuli tanpa alasan yang jelas. “ya sama-sama tante, maafkan teman kami juga ya, karena telah ceroboh membantu orang yang belum dikenal.” Kata Bagas menjelaskan.
“lho, saya malah makasih yang sebesar-besarnya, karena teman kamu ini, semua uang, surat-surat penting bisa selamat” kata tante itu berterima kasih kepada mereka. “iya tante, sama-sama” kata Bagas. “karena sudah menyelamatkan barang-barang saya, saya mau memberikan uang jajan pada kalian.” Kata tante itu yang akan memberikan uang kepada Bagas. “ nggak usah tante, terima kasih”. Kata Bagas menolak. akhirnya Yoga menyerobot uang itu dan pergi dengan kaki agak pincang. “makasih tante” kata Yoga agak tidak sopan. “maafkan teman saya itu tante”. Kata Renda meminta maaf. “iya gak apa-apa” kata tante itu sambil melihati Yoga yang berjalan agak pincang. “makasih ya tante” kata Bagas berterima kasih. “iya sama-sama, tante pergi dulu ya”. Kata tante itu yang masih saja sambil melihati Yoga. “e, iya tante” kata Bagas dan Renda. Akhirnya mereka semua berpisah.
Bagas dan Renda akhirnya menusul Yoga yang sebelumnya sudah pergi duluan. “kamu nopo tho Ga”. Kata Renda sambil menyentuh pundak Yoga. “nopo sich?” kata Yoga agak sedikit kesal. “koe kok egois banget tho” kata Bagas memarahi Yoga. “lho, lha egois piye tho, pantes ae lah kalo aku wiz diajar warga trus tante itu ngasih duwit ke aku”. Kata Yoga membalas perkataan Bagas. “Yo tapi gak koyo ngene tho, koe ki ngisin-isini aku ae tho Ga”. Kata Bagas dengan sedikit kesal. “lha ngisin-isini piye tho, emange tante mau kae sopo?” kata Yoga dengan kesal. “tak kandani yo Ga, tante mau kae kie sing punya toko pets terbesar sak Salatiga kae lho ga, koe gak ngerti tho?” kata Bagas menjelaskan. “betul iku Ga” kata Renda mendukung Bagas. “terus aku peduli” kata yoga berhenti sajenak dan menoleh ke Bagas dan Renda. “yo gax ngono tho ga, kita tu harus bersikap sopan kepada siapapun yang lebih tua dari kita”. “he” kata Yoga sedikit mengejek.
Akhirnya Yoga kembali berjalan dan mereka akan pulang ke rumah. Setelah sampai ke rumah, Yoga terus memikirkan kejadian tadi pagi, dia sampai tidak bisa tidur. “padahal wis nyopet, wis dioyak masa sisan, tapi kok yo ora isoh diajar masa yo, malah wong liyo sing ora reti opo-opo sing diajar” kata Yoga dalam hati. “koe ora turu Ga” kata Renda yang belum juga bisa tidur. “gak popo Ren. Aku mung mikir mau awan iku lho Ren” kata Yoga menjelaskan. “emange nopo mau awan Ga”. Kata Renda penasaran. “ koe gak mikir tho, padahal sing nyopet dudu aku, tapi kok sing diajar kok aku, sing nyopet kae malah ngguya-ngguyu mesti nang mburi”. Kata Yoga menjelaskan panjang lebar. “yo kuwi khan yo salahmu dhewe khan Ga, salahmu dhewe tase ndadak kok tampa” kata Renda menasihati Yoga. “yo khan niatku pengen nolong wong kae, ealah, arep nulung malah kepentung”. Kata Yoga sedikit melas. “yo kuwi dadi pengalaman mu ben dadi wong kie ojo terlalu ceroboh”. Kata Renda menasihati. “yo” kata Yoga sambil menganggukan kepalanya. “mendingan saiki turu ae yo, sesuk tangi risik, terus nggolek kerjaan sak ono-onone”. Kata Renda sambil menutup mulutnya yang sedang angop itu. “nopo yo, awak dhewe kok angel men nggolek pekerjaan ki.” Kata Yoga mengeluh. “yo nak awak dhewe usah terus yo mesti isoh tho. Usaha karo do’a mesti lak yow isoh entuk kerjaan tho. Ayo turu sek, sesuk nggolek kerjaan sing risik.” Kata Renda menyuruh agar Yoga segera Tidur. “ayo” kata Yoga yang ternyata juga sudah mulai mengantuk.
Pagi sudah datang, Yoga, Bagas, dan Renda sudah bersiap-siap untuk mencari pekerjaan seperti biasanya. Pagi ini, tidak seperti biasanya, Yoga sudah bangun pagi-pagi dan sudah nongkrong di teras rumah sambil main gitar. “tumben wis tangi Ga” kata Bagas terkejut. “ah ndasmu ah, tangi kawanen salah, kegasiken salah, karepe kie piye?” kata Yoga sedikit ngambek. “yow sory mas bro” kata Bagas meminta maaf sambil bercanda. “sing adus aku sek po koe sek Gas” kata Yoga sambil menggenjreng gitarnya. “koe sek yo ora popo, tapi koe adus bareng karo Renda galo. Renda gek entas ae mlebu” kata Bagas setengah mengejek. “ah, cah kae nak ngiseng (BAB) kie suwine gak patut oxt, sisan nyampo yake” kata Yoga setengah jengkel dan setengah mengejek. “sak wedhus-wedhuse deknen ki yo kancane awak dewe tho” kata Bagas sedikit malindungi Renda. “Gas, aku kie arep takon mbek koe. nopo yo, kok awak dewe ki angel men golek kerjaan, padahal ijasahe wak dhewe yo lumayan, opo saiki perusaan emang mbutuhke karyawan sing ber-ijasah duwur.” Kata Yoga sedikit mengeluh. ”mungkin awak dewe emang durung diwenehi rejeki karo ALLAH.” Kata Bagas sedikit menghibur Yoga. “yo arep tekan kapan awak dewe tetep nganggur koyo ngene”. Kata Yoga mengeluh. “awak dewe terus berusaha, do’a sing tenanan yo mesti lak entuk pekerjaan tho.” Kata Bagas menejelaskan.
Setelah mereka mengobrol panjang lebar, akhirnya Renda keluar dan menyuruh salah satu dari Yoga dan Bagas untuk mandi. “kesambet setan ngendi kowe Ren, dengaren adus kok gelis men” kata Yoga menegejek. “iyo iki, aku gak ngising (BAB). Dadine yo cepet tho.” Kata Renda sedikit cengar-cengir. “hahahahaha” tawa Bagas dan Yoga mendengar itu. “malah do ngguyu ki piye sih, kono lek do adus, lek mangkat nggolek sawan.” Kata Renda bercanda. “aku sek ae lah.” Kata Yoga yang sedang berdiri dan sedang bersemangat. “yo kono, aku tak nggitar lagu kenanganku”. Kata Renda sambil mengambil gitar Yoga. “emange bisa nggitar pok Ren?”. kata Yoga mengejek. “padakkan tho Ga, koyo gini kie aku mbiyen mantan Guitarer lho Ga” kata Renda sedikit tidak terima. “Guitarer mbahmu nyleding kie” kata Bagas menghina. “lha opo ext nak gak Guitarer namane?” kata Renda sok tahu. “kalo gitar kie Guitaris, tapi nak Guitarer ki gak ono, tapi kalo Drummer kuwi lagi ono, sok tahu sich.” Kata Yoga menjelaskan setengah mengejek. “yow sory” kata Renda sedikit Kecewa. “ yow is lach, tak mandi sek”. Kata Yoga berpamitan. “yo kono lek ndang cepet, adus ae ndadak pamitan” kata Bagas menyuruh Yoga agar segera pergi mandi. “he” kata Yoga agak mengejek.
Setelah Yoga pergi mandi, Renda dan Bagas berdua berbincang-bincang diteras. “hei Gas, menurutmu sejak kejadian wingi kae, Yoga sedikit aneh gak?” Kata Renda curiga. “yo emang dikit beda sich karo Yoga sing biasane”. Kata Bagas juga sedikit curiga. “tadi malem, dia gak isoh tidur, terus takon karo aku, nopo yo kok awak dewe kok angel men nggolek pekerjaan, yow trus aku jawab nak mungkin durung rejekine awak dewe to”. Kata Renda menjelaskan. “bener Ren, tadi pagi deknen yow dengaren tangine gasik banget, gak koyo biyasane, trus deknen yo takon karo aku nopo yo kok awak dewe angel banget golek kerjaan”. Kata Bagas menyambung ucapan Renda. Setelah mereka berbincang-bincang mengenai Yoga, akirnya Yoga sudah selesai mandi dan langsung keluar rumah. “sana Gas, cepetan mandine” kata Yoga menyuruh Bagas untuk mandi. “iyo ah, bawel” kata bagas sedikit ngambek. “ah bawel untumu sempal kuwi”. Kata Yoga membalas perkataan Bagas. “taek” kata Bagas sambil berdiri mau berangkat mandi.
Setelah Bagas selesai mandi, mereka semua ganti baju dan bersiap untuk mencari pekerjaan. “ayo Ga, wis awan iki” kata Renda berteriak. “mengko sek”. Kata Yoga juga berteriak. “koyo denyom ae tho, le dandan suwine gak patut” kata Bagas mengejek. “ayo ah, esuk-esuk ndadak teriak-teriak” kata Yoga sambil keluar dan sedang memakai ikat pinggang. Kemudian mereka berangkat dengan pakaian yang sangat rapi. “terus awak dewe arep menyang ngendi ki?” kata Yoga sedikit bingung. “biyasane kan awak dewe golek neng luar kota, opo saiki wak dewe golek nang Salatiga iki. Khan akeh toko-toko, perusaaan lumayan gede, yo orak?” kata Bagas menjelaskan. “iyo betul kuwi, awak dewe golek kerjaan neng kene sek ae, mungkin rejekine awak dewe neng kota dewe”. Kata Renda setuju pendapat Bagas. “yo ayo. Yuk” kata Yoga mengajak cepat-cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar